Archive for the ‘Artikel pribadi’ Category

Ikan dan sang Pemilik

February 7, 2008

Aku mendengar ucapan-ucapan, seloroh-seloroh, bisikan-bisikan, teriakan-teriakan jutaan ikan kecil itu.
Aku juga melihat tindak-tanduk mereka, dari lari-lari mereka, jalan-jalan mereka, duduk-duduk mereka, hingga tidur-tidur mereka.
Aku juga bisa membaui gumam mereka, apa yang mereka lakukan, apa yang tidak jadi mereka lakukan, atau yang hendak mereka lakukan.

Mudah saja bagi Aku,
Aku yang tidak tidur. Aku yang tidak pernah lelah dan bosan memantau mereka. Aku yang sangat menyayangi mereka.

Mereka tinggal di Akuarium yang telah Aku cipta.
Yang senantiasa Aku perbarui airnya, juga kuperindah dengan segala ornament-ornamentnya.
Sungguh Aku menghendaki kemudahan untuk mereka.
Makanan yang tersembunyi atau yang tampak,
Juga Aku beri gelembung udara,
Aku beri cahaya,
Sehingga mereka tak bisa dusta. (QS. Arrahman)

Mereka kukumpulkan tidak hanya satu jenis, namun berjenis-jenis, besar-kecil dan penuh warna-warni.
Aku jadikan mereka saling kenal, berhubungan, bertingkah laku. Aku ingin mengetahui siapa-siapa yang terbaik diantara mereka.

Itulah yang aku kehendaki,
Sehingga Aku tahu Siapa-siapa yang layak kujadikan ikan kesayanganku.
Sehingga Aku tahu Siapa-siapa yang akan kutempatkan ke tempat Ikan-ikan pilihanku.
Sehingga Aku tahu Siapa-siapa yang layak Aku manjakan di Aquarium, juga di Tempat itu nanti.

Salam

070208

Ikan tawar dan Ikan Asin

February 7, 2008

Sumur di pinggir pantai,

aku adalah ikan tawar yang hidup di dalamnya. aku mau mendeskripsikan tempat tinggalku itu, semoga kalian berkenan.

Bagiku, tempat tinggalku memiliki keindahan yang tiada tandingannya. Aku yakin itu. Untuk membuktikannya, mari aku antarkan engkau melihat-lihat tempatku. Santai saja teman. Jangan tegang. Aku yakin engkau akan terkesima.

Lihat, itu adalah tempat kami bermain, di situ aku biasa menari, bernyanyi, atau tertawa-tawa. Sampai-sampai membuat perut sakit atau mata meleleh, membuat kehidupanku lebih menyenangkan. Bikin Hidup lebih Hidup, begitu istilah yang aku dengar disini.

Lihat, itu adalah tempat kami makan. Di situ sangat berlimpah makanan kami. Selama aku disini, belum pernah habis. Lumut-lumut itu sangat hijau juga segar, dan terkadang di dalamnya tersimpan makanan yang juga lezat. makanan itu panjang. rasanya gurih dan kenyal ketika dimakan. Makanan itu aku beri nama cacing. Itu adalah makanan terenak, yang merupakan menu favoritku juga teman-temanku. Lumut-lumut itu juga sangat lembut, tidak jarang aku bermalas-malasan di atasnya, bahkan tidur, setelah perut aku tak ada lagi ruang kosongnya. Wah, Indahnya dunia!

Nah itu dia teman-temanku, lihat mereka. Itu dia ada yang berwarna merah, kuning, hijau, juga belang-belang. Itu baru sebagian. Mungkin yang lainnya masih sibuk di tempat lain. Itu dia temanku lagi, dia yang terbesar disini. Besarnya hampir 5 kalinya tubuh aku. Kami juga suka bermain dengan dia.

Terakhir, mari aku ajak engkau berenang kelilingi tempatku ini. Yuuk!

Huh, capek ya teman. He..he inilah tempatku teman. begitu luas, kan?.

****

Peristiwa gelombang tsunami Aceh tahun 2004 telah menyapu banyak ikan asin ke darat. Salah satunya adalah ikan yang bernama Nabee. Dia terdampar ke darat dan masuk ke dalam sumur yang ada di pinggir pantai itu. Bagaimana ketika dia bertemu dengan ikan tawar di dalamnya?

****

“Hei, kamu siapa?”, tanya aku penasaran karena dia terlihat asing.

“Namaku?”

“Iya, namamu.”

“Aku Nabee”, ikan asing itu menjawab pertanyaanku.

“Dari mana kamu?”, tanyaku lagi.

“Aku juga tidak tau, yang jelas aku tadi melihat air besar yang datang ke arahku. Suaranya gemuruh. Aku pun takut dibuatnya. Aku mau lari, namun ketika aku baru saja pasang kuda-kuda, tiba-tiba air besar itu telah menyeret aku. Aku tak mampu mengelak, energiku tak sanggup melawan arus deras itu. Sehingga Aku pasrah. Sempat aku terpingsan hingga akhirnya Aku sadar telah berada di tempat ini”. Jawab Nabee menerangkan.

“Oooo”,

“Welcome home teman!”, kata aku menyambutnya.

“Aku yakin tempatku ini pasti lebih baik dari tempat asalmu. Kau tidak akan pernah menyesal terdampar disini. Mari aku ajak engkau berkeliling!”.

(Seperti di awal cerita Ikan di dalam sumur itu mengajak ikan asing itu melihat-lihat tempat tinggalnya dan mencoba menghidangkan menu favoritnya. Setelah kembali dari keliling-kelilingnya terjadilah diskusi di antara mereka.)

“Gimana teman, Lebih bagus tempat tinggalku ketimbang tempat asalmu, kan?”, tanyaku pada Nabee.

“Tidak!”, jawab ikan asing itu tegas.

Perasaanku pun seperti di sambar petir di siang bolong yang terik.

“Hah, apa kamu tidak berbohong?”, tanyaku kepadanya sembari mengibaskan ekorku.

“Iya, Aku tidak bohong!” Jawab Nabee.

“Jika kamu tau, tempatku jauh lebih indah dari tempat ini. Sebagai perbandingan,

disini makananmu hanya ada lumut hijau dan cacing, sedangkan di tempatku lumut tidak hanya berwarna hijau, tetapi juga ada yang berwarna merah, biru, dsb. Bahkan lumut di tempatku jauh lebih sedap dipandang mata daripada disini. Dan tentunya di tempat kami ada makanan yang jauh lebih enak daripada menu favoritmu itu”. Jawab Nabee.

Nabee pun melanjutkan ceritanya,

“Aku pun mempunyai banyak teman di tempat tinggalku, diantaranya bernama Paus, dia memiliki tubuh ribuan kali besarnya dari temanmu itu. Begitu juga dengan luasnya tempat tinggalku, di tempatmu, Aku hanya butuh 2 menit untuk mengelilinginya, dan itu pun dengan berjalan. Sedangkan di tempatku, walaupun kamu coba berlari untuk mengelilinginya, butuh bertahun-tahun untuk sampai ke tempat kamu mulai berlari, Bisakah kamu bayangkan?”.

****

Seperti Nabi Allah yang banyak terbunuh karena menceritakan tentang dunia After here pada masing-masing umatnya, tentang keindahannya, tentang kekekalannya. Ikan asin bernama Nabee pun terbunuh karena dituduh berdusta oleh gerombolan Ikan tawar yang bersikukuh mengatakan The most beautiful Life is here!.

Salam,

070208